Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan

Perpaduan Militer-Birokrat, Pilihan Anak Muda

Perpaduan Militer-Birokrat, Pilihan Anak Muda

Partai Demokrat, PAN, PKB, dan PPP resmi mengusung Agus Yudhoyono dan Sylviana Murni sebagai Pasangan calon gubernur dan calon wakil gubernur pada Pilgub DKI 2017. Keputusan ini dianggap solusi jalan tengah, yang mewakili calon pemimpin muda, dinamis dan tegas. Perpaduan militer dan birokrasi.

Agus Yudhoyono dan Syliviana Murni adalah pasangan dengan background Militer dan Birokrasi; karena sosok Sylviana Murni berasal dari perwakilan birokrasi yang memahami kondisi pemerintahan DKI.
Lalu siapa Syliviana Murni?

Sylviana mewakili elemen perempuan, muslim, birokrat Pemprov. Dr. Hj. Sylviana Murni, SH, M.Si, merupakan sosok wanita Indonesia asli betawi yang tegas, lugas dan disiplin, peraih gelar None Jakarta tahun 1981.

Saat ini menjabat Deputi Gubernur DKI Bidang Kepariwisataan dan Kebudayaan. Sebelumnya menjabat walikota Jakarta Pusat pada era gubernur Fauzi Bowo.

Lahir dari keluarga religius dan disiplin yang menjadikan sosok Sylvi yang sukses. Didikan seorang Ibu yang menjadikan Sylvi menjadi sosok seorang wanita yang religi, sedangkan kedisiplinan Sylvi merupakan ajaran sang Ayah karena dari latar belakang tentara.

Berbagai jabatan karir pernah diemban Sylviana. Ia pernah menjadi Kepala Dinas Pendidikan Dasar DKI periode 2004-2008. Setelah itu, dia menjabat sebagai Wali Kota Jakarta Pusat tertanggal 21 April 2008 hingga tahun 2012. Dengan prestasi ini, Sylviana merupakan wali kota perempuan pertama di Jakarta. Sylviana juga pernah menjadi Plt Kasatpol PP.

Sylviana sebelumnya sempat mengikutifit and proper test yang diadakan Partai Gerindra untuk menjadi cawagub dari Sandiaga Uno di Pilgub DKI Jakarta 2017. Namun akhirnya Sylviana berlabuh di Koalisi Cikeas.

Dilema Kata "Petahana" Bagi Mahasiswa

Dilema Kata "Petahana" Bagi Mahasiswa

Kurun waktu 1928-2016 ditetapkannya bahasa indonesia menjadi bahasa persatuan indonesia pada tanggal 28 Oktober 1928, banyak sekali pembaharuan dalam upaya mewujudkan bahasa indonesia yang baik dan benar. Mulai dari peralihan bentuk kata dulu yang dimodernkan, penyerapan kata asing, dan munculnya kata-kata baru khususnya di kata baku.

Contoh timbulnya kata baru yakni, "Petahana". Banyak orang awan bertanya-tanya kepada orang yang lebih pintar apasih petahana itu? Mereka yang rutin mengikuti perkembangan perpolitikan di indonesia menjadi bingung dengan munculnya kata yang melekat pada Cagub DKI Jakarta Ir. Basuki Cahya Purnama tersebut.

Pasalnya selain tidak tahu maknanya, mereka tentunya harus membagi konsetrasi antara makna "Petahana" dan mentafsir kata yang sesudah ataupun sebelum kata asing itu. Agar pesan yang disampaikan media bisa ditangkap dengan cerna oleh telinga masyarakat. Sungguh dilema bagi masyarakat kita, dan ini harus kita sadari bentuk perbedaan yang nyata antara mahasiswa dengan masyarakat.

Tetapi, agaknya di kalangan mahasiswa pun begitu juga. Sebab tidak semua mahasiswa pernah menjumpai kata tersebut pada mata kuliahnya. Namun, perlu ditekankan mahasiswa bukanlah seseorang yang kolot, pengertian harus pintar-pintar pun harus kita aplikasikan. Apa lagi terhadap masalah sepele ini yang mengenai pemaknaan kata-kata asing. Pastinya mereka mencari melalui internet, lalu bertanya pada dosen dan paling mudah bertanya pada teman sejawat. Ini juga menjadi dilema bagi mahasiswa, bagi mereka yang belum tahu sampai saat ini terhadap bahasa baku yang digunakan politisi-birokrat indonesia.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Petahana berarti kedudukan, kebesaran, atau kemuliaan, dalam politik, adalah istilah bagi pemegang suatu jabatan politik yang sedang menjabat. Contohnya Ahok yang sekarang sedang menajabat Gubernur DKI Jakarta ingin kembali manju pada Pilgub 2017

Jadi petahana adalahh pemimpin yang sedang menjabat pada saat pemilihan umum untuk pelaksanaan pemilihan berikutnya. Dalam persaingan kursi-terbuka (di mana sang petahana tidak mencalonkan diri), istilah "petahana" terkadang digunakan untuk merujuk kepada kandidat dari partai yang masih memegang jabatan kekuasaan.

Mungkin kata asing berikutnya akan muncul seiringnya kebutuhan akan kata-kata yang baru, tugas kita sebagai mahasiswa ya mau tidak mahu harus mencari makna kata tersebut. Walau kita bukalah mahasiswa hukum atau politik yang dituntut untuk mengetahui, namun apa salahnya kita mengetahui kata baru indonesia, toh untuk kebaikan kita juga ketika berkomunikasi dengan orang yang lebih hebat dari kita. Dan juga bisa sebagai ladang mencari pahala ketika bersedekah kepada yang tidak tahu.

Baca juga artikel : Sedikit Banyak Mahasiswa Harus Tahu Politik

Dunia sekarang telah canggih, internet dimana saja. Mudah untuk kita mencari tahu segala sesuatu. Kemudian, politik pada dasarnya harus di ikuti perkembangannya sebab dengan mengetahuinya kita jadi bisa mengaitkan segala permasalahan yang terjadi di pemerintahan daerah, dilema kampus hingga kebutuhan pribadi sendiri.

Sedikit Banyak Mahasiswa Harus Tahu Politik

Sedikit Banyak Mahasiswa Harus Tahu Politik
Percaya atau tidak kondisi politik yang ada pasti mempengaruhi semua sektor, khususnya faktor ekonomi. Apa yang kita makan hari ini dan kita dapatkan dari hasil keringat sendiri adalah buah dari hasil kebijakan politik itu sendiri. Bbm naik, minyak motor kita jadi korbannya. Semua harga pangan naik karena ulah bbm. Orang pintar yang menaikkan bbm. Di bidang keamanan banyak juga kepentingan politik ikut ambil andil, seperti alutsista kita berkembang, negara kita mandiri. Orang pintarlah yang menyusun konsepnya secara sistematis hingga bisa menembus pasar internasional. Lalu kejahatan asusila marak, hukum kebiri segera muncul. Lagi-lagi orang pintar yang menyusun regulasinya untuk diterapkan.

Meskipun kebijakan-kebijakan tersebut bukan berasal dari sitem politik jika dilihat secara kasar, yang terlihat ialah secara halus dan tidak terendus akan kepentingan-kepentingan pribadi dan kelompok. Namun tidak untuk pengamat politik di negeri ini. Ia tentunya selalu mengamati kaum birokrat, politisi, DPR, DPRD, dsb.

Pada dasarnya tujuan orang-orang hebat tersbut ialah merubah bangsa indonesia ke arah yang lebih baik, tetapi seiring dalam perjalanan di tengah-tengah selalu akan ada rute-rute yang harus di lewati demi kepentingan partai, oknum, sanak saudara, orang dalam, dan lain-lain.

Jadi, apakah kita masih apatis terhadap politik di indonesia saat ini?
Yah jawabannya mayoritas iya, sebab ngurusi hidup sendiri saja rumit apa lagi ngurusi hidup orang yang sebenarnya ngurusi hidup kita juga. Haha jadi pusing ya..

Tetapi tidak untuk mahasiswa, seperti judul di atas. Kita mahasiswa calon penerus bangsa, sedikit banyak harus memahani kondisi politik yang ada. Bahkan kita di tuntut untuk berperan dalam bidang tersebut. Bukan meregulasinya namun cukup hanya dengan memberikan masukkan/opini hingga kritikan bila perlu, terhadap ketetapan yang di berikan jika  bertentangan dengan kaum lemah.

Dan yang paling akhir. Ujung-ujungnya pasti mikirin nasib orang bila masuk ke ranah politik. Beginilah rumus politik. Dari rakyat untuk rakyat dan dari saya untuk saya.
Copyright © Ketawa Karimun. All rights reserved. Template by CB