Papan Reklame vs Spanduk Di Atas Jalan

Papan Reklame vs Spanduk Di Atas Jalan

Terkait dengan keindahan kota saya ingin mengusulkan perlu adanya papan iklan/reklame yang terpasang di tempat strategis dan kontennya yang berkualitas. Pantauan saya disepanjang jalan raya karimun memberikan kesan seakan kota ini jelek saat di pandang. Sebab penuh dengan tali yang bergantungan dan spanduk yang entah sampai kapan akan di turunkan, ketika hancur dimakan usiapun tak kunjung di pedulikan.

Di simpang RSUD sangat strategis bila spanduk di letakkan di papan reklame, tapi saya rasa bukan masyarakat umum yang memiliki benda tersebut, pastinya pemeritah kabupaten karimun. Tapi dalam pengelolahannya tidak seperti yang diharapkan, yang ada dinding putih papan reklame yang terus di pandang warga karimun.

Sebaiknya, demi terwujudnya kota yang indah dan penuh dengan kata inspirasi. Papan reklame tersebut disewakan pada masyarakat yang ingin menggunakannya tapi dengan bayaran yang terjangkau, bila perlu gratiskan pada bulan pertama agar yang lain tertarik untuk ikut di sebelahnya. Biarlah tekor dulu yang penting untung nanti, seperti pepatah berakit-rakit dahulu berenang-renang ketepian.

Utamakan kenyaman masyarakat maka kalian akan nyaman duduk di singgasana.

Sarjana Mengajar Calon Sarjana

Sarjana Mengajar Calon Sarjana

Dosen adalah tenaga pengajar di lingkungan kampus yang di harapkan mampu mengembangkan kemampuan mahasiswa.
Tapi, hari ini masih banyak dosen yang mengajar hanya sekedar mengajar, hanya mengharapkan gaji dan mengisi kesibukannya yang kosong. Barangkali niat mereka mengajar hanya sebagai batu loncatan untuk mencari gelar yang lebih tinggi.
Fakta yang ada, dosen tipekal seperti ini adalah dosen yang masih menyandang gelar sarjana, tidak relevan bila di zaman ini masih terdapat sarjana mengajar calon sarjana dalam kampus Universitas Karimun.

Costal Area Dalam Perspektif Mahasiswa Karimun

Costal Area Dalam Perspektif Mahasiswa Karimun
Pemandangan costal area di malam hari
Costal area, sebuah nama yang penuh kenangan bagi masyarakat karimun. Khususnya masyarakat tempatan, mereka tentunya bangga dengan keberhasilan kampungnya dalam membangun tempat wisata baru buatan. Coba lihat batam dengan barelangnya, indah, megah dan cukup berkelas jembatan yang dibangun selama enam tahun (1992-1998) ini. Karimun juga punya, ya mana lagi kalau bukan jembatan leho. Jembatan ini tergolong baru, di bangun pada era bupati Karimun H. Aunur Rafiq, S.Sos, M.si, sudah bisa dicicipi oleh masyarakat setelah selesai pada awal tahun 2016.

Dalam proses pembangunan costal area yang memakan biaya APBD Rp 300 milliar, terdapat masalah dalam pembangunannya, satu diantaranya yang semua orang tahu adalah lambatnya proses pengerjaannya. 

Penyebabnya adalah, anggaran yang dikucurkan tidak semuanya cair, perlu bertahap. Hal ini terkait dengan upaya terbentuknya pembangunan yang merata di semua sektor, jadi bukan pariwisata saja yang harus di bangun. Banyak juga yang perlu di prioritaskan, seperti pendidikan, kesehatan, pembangunan infrastruktur, kesejahteraan ekonomi masyarakat, dan sebagainya. Lalu, juga sulitnya menyelesaikan lahan yang belum terbebaskan oleh pemkab karimun terhadap pemilik tanah.

Sayang sekali bila pembangunan ini tersendat hingga terhenti, karena bukan saja menjatuhkan marwah karimun tetapi juga merugikan ekonomi dengan menghamburkan uang tanpa hasil yang konkret. Belum lagi gedung di samping costal yang tidak tahu arah tujuannya untuk dibangun, malah dijadikan tempat warga memancing ikan pada sore dan malam hari. 

Objek Wisata Baru Karimun Di Tahun 2017

Objek Wisata Baru Karimun Di Tahun 2017

Pantai pelawan, pantai pongkar, air terjun pongkar adalah sebuah distinasi karimun yang berasal dari alam dan di kelola oleh pemerintah daerah karimun. Dalam hal ini pemda karimun wajib melayani segala bentuk kekurangan dalam segi pelayanan demi kenyamanan pengunjung, seperti tempat tong sampah, lahan parkir, tempat bersantai, serta tak kalah pentingnya toilet umum.

Lengkap dan nyaman adalah prioritas oleh pengunjung dalam berwisata, hal ini bisa menaikkan traffic pengunjung yang semakin hari semakin banyak saja penduduk karimun. Namun kedua hal tadi bila di adukan dengan sebuah tontonan yang monoton, maka tidak ada gunanya (tidak bermanfaat) lagi jika yang dipandang itu terus, perlu adanya variasi dalam pengelolahannya baik dalam segi manajemennya ataupun operasionalnya. Terkait kejenuhan objek wisata karimun yang tidak ubahnya seperti hanya berlari di tempat, pemerintah karimun harus memiliki suatu daya tarik yang lebih variatif dan inovatif. Paling tidak menemukan objek wisata alam yang masih terpendam, terlebih objek wisata yang berpotensi tapi belum di optimalkan. Contohnya wisata ke gunung jantan.

Dalam acara seminar beberapa bulan yang lalu di aula kampus Universitas Karimun, yang menjadi narasumbernya adalah bupati karimun H. Aunur Rafiq, S.Sos, M.si. Beliau mengatakan, secepatnya kami akan menjadikan gunung jantan sebagai objek wisata barunya kabupaten karimun dengan melengkapi beberapa fasilitas mendukung.

Didukungnya kepala daerah bukan tidak mungkin bisa memuluskan jalan ini, tapi fakta bisa berkata lain. Dalam praktiknya akan selalu ada tarik ulur dari berbagai kelompok/pribadi, dengan kepentingannya masing-masing. Disatu sisi ingin kemajuan bersama di sisi lain ingin memajukan perut sendiri.

Kemudian, tak dapat dipungkiri bahwa wisata buatan juga harus ikut berperan dalam kemajuan wisata di karimun. Salah satunya daerah costal area, dengan ditetapkannya sebagai distinasi kebanggan warga karimun, daerah ini harus di berikan kemudahan bagi para investor untuk menanamkan modalnya. Manfaatnya selain untuk kemajuan ekonomi karimun juga menambah lapangan pekerjaan, pada hari ini tidak sedikit bangunan yang mengahasilkan pundi-pundi rupiah ke pemkab Karimun. 

Mari kita lihat, ada restaurant food court, cafĂ© d’ja, dan yang paling menonjol dari semua adalah hotel 21 karimun. Khusus yang terakhir ini, peluang untuk menjadi objek wisata baru sangat terbuka lebar, dengan mengadopsi hotel berbintang diyakini hotel ini akan digadang-gadang sebagai hotel yang terbaik di karimun. Viewnya yang mengahadap laut, di bawahnya terdapat kolam mandi, lalu dilengkapi dengan pujasera di lantai satu. Menjadikan hotel ini sebagai tandingan terbaru untuk hotel aston dan maximillian kedepannya.


Semoga saja hotel tersebut cepat selesai pembangunannya, dan objek wisata ke gunung jantan semoga juga terrealisasikan oleh bapak bupati karimun. Good luck karimun, teruslah berbenah diri, dan kita pun juga. Tidak lagi berjalan untuk merubah tetapi berlarilah secepat mungkin demi perubahan.

Adyatma Kejaksaan

Adyatma Kejaksaan

Memang benar aku tahu maksudmu,
Tapi maksud yang kuinginkan bukan seperti yang kau kira,
Waktu terus saja menyadarkan kita akan dilemma yang tak berkesudahan
Tak ada habisnya akan kekuasaan,
Tak ada hentinya untuk meraih gelar maha raja hutan,
Apa kau kira ini rimba ?
Hanya yang kuat akan berkuasa dan yang lemah menjadi mangsa.
Hei bung, ini bumi adyatma !
Hukum tanpa kuasa itu sia,
Dan kuasa tanpa hukum adalah rimba.
Anarki dan tirani seolah berjalan dengan bangga dibumi kita dengan mengusung dada.
Yang kecil semakin kecil terlihat dan hilang begitu saja.
Lalu bagaimana dengan petinggi jabatannya ?
Mereka akan terus membesar dan menjadi raksasa.
Apa kau kira itu sudah sama rata seperti lambang libra,
Oh tidak, ini jauh dari kata adyatma !!


Selamat hari Adyatma
Gelar kejaksaan tegakkan sesuai nurani bangsa
Oleh “Siti Kamisah”

Seminggu Berselang ..

Seminggu berselang ..

Sehabis pulang dari rumah sang mantan, keseharian Tomy dilalui dengan menyendiri di tempat-tempat kesunyian, guna mengisi kegundahannya. Lokasi seperti pantai, perpustakaan, lapangan futsal menjadi pilihannya.

Selain diterpa masalah yang cukup hebat yang membuatnya galau yang tiada berujung, ia juga sedang dilanda kegelisahan yang tidak ada habis-habisnya sampai sekarang, yaitu krisisnya perekonomian keluarga. Menjadikan Ayahnya sibuk mencari pekerjaan lain setelah bangunan yang dikerjakan telah siap. Belum lagi tunggakan uang semester yang harus dilunasi, mengingat ini tahun terakhir ia duduk di bangku kuliah dan menuju wisuda.

Seakan tidak percaya dengan apa yang terjadi, siang ini langkah kakinya tidak jelas akan kemana melangkah,  -seperti dedaunan yang berterbangan mengikuti arah angin- kadang kala berhenti sejenak, menghirup udara sambil melihat langit, sesekali menatap sepasang burung yang memang dari tadi bertengger di ranting pohon. Tomy sang arjuna yang ditinggal cinta, masa kelam sedang dilaluinya, siang malam masalah ini menghantui, membuat batinnya terusik seakan ingin berteriak “Mengapa aku sebodoh ini?? bodohkah aku memutuskan semua ini?? kenapa tidak aku perjuangkan saja cintaku ini? aku bodoh!”

Lalu jawaban dari langit datang, yaitu suara gemuruh yang diiringi awan pekat petanda hujan akan turun. Burung dan dedaunan saling bertebrangan, akibat hembusan angin yang kencang itu. Tomy yang menyadari akan turunnya hujan besar segera bergegas ke tempat teduh, tapi sepanjang jalan, tidak satu pun yang ia nilai cukup untuk melindungi tubuhnya dari rintikan hujan yang semakin lebat.

Ketika puas berlari mencari tempat teduh, tibalah Tomy di tempat yang diharapkan. Sebuah toko buku tiga lantai, di dalam kondisi ramai pengunjung, bahkan ada yang hanya sekedar berteduh menunggu hujan reda. Toko tersebut bernama ‘Salemba’, letaknya di persimpangan tiga menjadikannya ramai pengunjung karena strategis.

Masuklah Tomy ke toko buku itu, sambil melihat-lihat bangunan tempo dulu. Tempat ia dulu mencari buku tulis bersama ayahnya saat masa SD. Kini, dindingnya telah di cat warna putih, bangunan ini telah berubah , dahulu hanya satu lantai kini sudah bertambah dua lantai, decak kagumnya terhenti kala ia menemukan buku yang sangat bagus untuk dibaca dan dijadikan rujukan untuk kehidupannya, terlebih sekelumit masalah yang tengah dihadapinya. Judul sampul itu ialah ‘tatanan kehidupan harus sejalan dengan syariat islam’ dan hanya tersisa satu buku. Sewaktu ingin mengambil, Tomy terkejut ketika di sampingnya terdapat lelaki tua separuh baya, yang menatap sama apa yang Tomy tatap, lantas ia mengurungkan niat untuk membaca dan mempersilahkan kepada Bapak tua tadi.

“Silahkan Pak, mau ambil buku ini ya?“ sambil menunjukkan buku yang dari tadi ia inginkan.
“Terima kasih nak.“
“Iya Pak sama-sama“ benar dugaan Tomy.
Ketika ingin pergi dan mencari buku lain, tiba-tiba saja Pak tua tadi memanggil dan menanyakan sesuatu.
“Adik pernah membaca buku ini?“
“Belum Pak, jusru baru kali ini saya melihat buku yang berjudul seperti itu.“
“Kalau begitu ambillah, saya sudah tua dan selalu sakit. Sudah tidak layak untuk membaca buku ini. Saya merasa kamu yang lebih pantas dan semoga bisa kamu amalkan dan sebarkan setiap kebaikan di dalam buku ini.“
“Aminn..“Tomy sedih ketika melihat bola mata Pak tua itu yang mulai kemerah-merahan, antara ingin menangisi keluhannya atau memang sudah seperti itu akibat usianya.
“Siapa namamu nak? Sambil menyodorkan tangan arti sebuah perkenalan dengan jabatan tangan.
“Nama saya Tomy Mandala Putra, kalau nama Bapak siapa?“
“Saya Ali Sastrowidjodjo, orang-orang di toko buku ini hanya memanggil Pak ali saja.“
“Oh Pak Ali namanya, terimakasih ya pak? Sambil tersenyum.
“Iya, sama-sama nak” Pak Ali pun menjawab dengan senyum simpulnya
.

Buku yang menjadi pengobat hati Tomy telah menjadi sebuah bacaan yang terus-terus diulanginya, karena tulisan yang disuguhkan begitu mendalam, sehingga membuat Tomy terkadang pusing hingga harus browsing ke internet guna mengetahui maksud dari tulisan-tulisan tersebut. Takjub akan isi buku itu membuat Tomy bertanya, siapa gerangan yang mengarang buku tersebut. Alangkah terkejutnya Tomy saat membaca halaman di mukadimah, diluar dugaan, ternyata pengarangnya yang tidak lain dan tidak bukan adalah bapak yang berada disampingnya tadi. Pak Ali Sastrowidjodjo.

Hari mulai gelap, rembulan mulai menunjukkan sinarnya, rencana esok untuk bertemu beliau disusun. Sampai seputar pertanyaan-pertanyaan dari yang mudah hingga tersulit, dan rasa penasaran berasal dari mana redaksi-redaksi yang beliau himpun.

Setiba di dalam toko, Tomy mulai menunjukkan kehausannya akan ilmu. Di kesempatan langka ini banyak yang ditanyakannya seputar rencana yang ia susun sore itu, diskusi mereka cukup alot. Alih-alih ilmu yang di dapat belum puas, Tomy diajak untuk ikut bergabung dalam bisnis yang digarap oleh Pak Ali dan keluarga, sekaligus belajar ilmu agama oleh bimbingannya. Pak Ali merasa Tomy adalah pemuda yang berbakat dengan hanya melihat gelagat dan gaya bicaranya yang cukup intelek, berbanding terbalik usianya yang muda.

Mendapat tawaran semacam itu, membuat Tomy merasa bahagia luar biasa dan segera menerima ajakannya, ia sangat tertarik untuk mengikuti jejak Pak Ali sebagai penulis hebat dan pebisnis yang sukses. Dahulu hanya 1 lantai kini telah berubah menjadi 3 lantai. Serta menjadikan tokonya sebagai penerbit yang selalu mengeluarkan karya-karya tulisan hebat orang lain.

Teruskan membaca Setelah 1 Bulan belajar bersama Pak Ali

Setelah 1 Bulan Belajar Bersama Pak Ali

Setelah 1 Bulan belajar bersama Pak Ali

Tomy berhasil mencuri sebagian ilmu dari Pak Ali yang ahli dalam bidang agama, satu bulan bukanlah waktu yang cukup, untuk menyerap ilmu agama yang terkandung di dalam jiwa Pak Ali. Tapi satu bulan cukup untuk menjadi seorang penulis ulung, ditambah peralatan yang memadai dan guru yang mempuni. Serta tidak diragukan lagi akan kehebatan Pak Ali dalam merangkai kata-kata indah nan menyejuk kalbu.
Ketajaman nalar pak Ali kini sudah mengalir ke Tomy, pernah suatu hari Pak Ali bertanya pada Tomy tentang kecerdasannya. “Dari mana kamu memperoleh otak yang cerdas itu nak?“ Tomy menjawab dengan gamblang “Kedua orang tuaku selalu menyuruhku sholat tepat waktu“ lalu Tomy diam dan mulai belajar menulis lagi.

Pak Ali menyadari bahwa kecerdasan yang ia dapat pantas didapati dari sholat, tapi Tomy belum menyadari arti dari sholat. Hakekat dari sujud, dimana gerakan sujudlah yang membuat otak menjadi cerdas, aliran darah tidak akan memasuki urat saraf di dalam otak melainkan ketika sujud dalam sholat.

Tomy ibarat emas yang hanya tinggal dipoles untuk menjadi bermacam-macam perhiasan.

Tomy kini sudah mahir dalam menulis dan menyusun, menurutnya inilah buku yang terbaik dalam hidupnya. Yaitu sebuah novel berjudul ‘Mantanku jodohku’ yang terilhami dari pengalaman Tomy sendiri, ditambah sedikit pengetahuan agama pak Ali pada bab akhirnya.

Satu bulan lebih sudah Tomy menulis, buku yang ia tulis kini sudah terbit dan siap dipasarkan ke pelosok kota, tak disangka untung yang ia raup melebihi yang diharapkan. Hasil penjualan di toko ‘Salemba’ sebagai buktinya. “Ini baru satu toko saja, belum lagi dari keuntungan toko yang lain,” ujar Tomy yang baru menyadari bakat alaminya. Kini ia lebih serius lagi mendalami setelah melihat hasil buah yang ia tanam lalu.

Mendekat dua bulan bukunya sudah menjadi best seller untuk daerah kotanya. Lebih dari cukup untuk membantu beban kedua orang tua, membayar tunggakan uang wisuda yang telah mendapatkan dispensasi. Dari kebutuhan pribadi, sampai kebutuhan keluarga, hingga kebutuhan teman, sahabat, dipenuhinya semua. Semua itu ia lakukan semata-mata karena ibadah, beribadah kepada Allah. Tujuan akhir dari segala perbuatan baik.


Wisuda dan menuju puncak karir

Aktivitas kehidupannya kini berubah, setelah ia wisuda, sambil mencari kerja ia sempatkan untuk menulis novel dari berbagai tema dan bermacam judul. Ia begitu tekun menggeluti pekerjaan sampingannya ini, sampai pada akhirnya novelnya semua laku terjual. Hingga skala nasional, tak terkecuali 1 dan 2 buku mampu menembus pasar internasional. Tulisannya novel bertemakan islam yang menjadi favoritnya. Ia juga menulis artikel bertemakan ilmu agama, yang di cintainya setelah mengenal pak Ali. Lalu ia memutuskan penulis sebagai pekerjaan tetap.

Melihat perkembangan Tomy yang begitu pesat, Pak Ali merasa bangga. Kehidupan keluarganya tidak luluh lantak seperti dahulu lagi, ia menjadi orang sukses. Tak lupa ia selalu memberi infaq kepada anak yatim dan orang yang tak mampu, orang yang butuh pekerjaan pun tidak luput dari bantuannya. Begitu dermawannya Tomy, sampai-sampai pak Ali menyanjungnya dengan sebutan “Manusia bertangan emas dari bumi berazam.”

Dengan kepercayaan yang diberikan kepada Tomy, maka Pak Ali menunjuk Tomy untuk mengatur buku-buku yang layak untuk di terbitkan, ketimbang Ferry anaknya sendiri. Maka semakin tinggilah penghasilan Tomy sekarang, di tambah ia juga seorang penulis handal. Setelah cukup lama memegang jabatan di jasa penerbit ia mengganti nama penerbitnya menjadi ‘Tangisan Hujan’ sebuah nama yang saraf akan masa lalu.


Gayatri Rajapatni.

Disisi lain, Tri yang hidup di Lingga telah menjelma menjadi seorang guru TK yang  cantik dan menarik. Ia menggeluti profesi itu akibat peran ibunya sebagai kepala sekolah TK, ia telah menikah dengan Juar yang bekerja sebagai Captain kapal di salah satu perusahaan asing.

Selama menikah ia belum mempunyai anak, harinya pun dilalui dengan kesendirian dirumah, karena Juar selalu berada di atas kapal. Ia akan pulang bila selesai 3 bulan bertugas di laut, tapi kenyataan yang ada Juar pulang setelah 6 bulan bahkan lebih. Lalu, Tri menyewa seseorang untuk menyelidiki hal tersebut, kabar yang tidak mengenak pun tiba. Juar telah memiliki istri jauh sebelum mereka menikah, istrinya adalah warga Fhilipina. Ia pun meminta cerai dari Juar. Berita ini terdengar sampai ke telinga Tomy melalui rekan kerjanya. Hal ini tidak membuat Tomy merasa senang atau bahagia karena masalah yang dihadapi Tri. Ia telah menemukan cinta seutuhanya yang tidak pernah redam dan takut akan ditinggal lagi. Yaitu cinta kepada Allah SWT.

Terlalu baiknya Tomy membuatnya hiba terhadap Tri, Tomy mengirimkan sepucuk surat yang berisikan sebuah wejangan hidup, lalu di balas seminggu kemudian oleh Tri dengan sebuah penyesalan yang amat tinggi.


5 tahun kemudian ..

5 tahun berjalan, Tomy menjadi kaya raya. Dahulu hidupnya tunggang langgang, uang kuliah tersendat-sendat dan himpitan ekonomi selalu menerpa keluarganya. Kini, ia telah sukses, telah menyandang gelar Doctor. Menjadi kebanggaan bagi keluarganya, pengalaman pahitnya telah menjadi kenangan.

Sekarang ia semakin sibuk, bukan tempat penerbit saja yang di urusnya, toko buku salemba pun menjadi tugasnya, setelah meninggalnya Pak Ali. Ferry anaknya Pak Ali yang tidak mampu mengemban tugas yang diberikan oleh bapaknya, menjadikan Tomy mengendalikan semua bisnis Pak Ali. Walau untungnya di bagi beberapa persen ke Ferry.

Kehidupan Tomy terasa kurang lengkap tanpa sesosok wanita di sampingnya, ia bukan tidak ingin lagi mencari wanita setelah luka masa lalunya, melainkan hanya fokus ke karirnya.

Hingga akhirnya, setelah memasuki usia 28 tahun ia menemukan seorang wanita manis, sholeha lagi baik akhlaknya, dari keluarga ulama yang terpandang di Karimun. Namanya Maryati, yang kini telah menjadi istrinya dan dikaruniai sepasang anak yang cantik dan tampan. Akhirnya, Tomy dengan keluarga kecilnya hidup bahagia, dan Tri sang mantan yang melukainya juga bahagia dengan kesendiriannya.

Bersambung…
Copyright © Ketawa Karimun. All rights reserved. Template by CB