Sabtu Sore Di Pantai Pelawan

Sabtu sore di pantai pelawan

Lirih angin menghampiri Tomy, di tepi riuh deburnya air pantai menanti Tri yang tak kunjung tiba. Seketika, Tomy salah tingkah, ia terdiam. Matanya terpesona melihat Tri menghampirinya. decak kagumnya tak terelakkan, ayunya sungguh mempesona. Tomy tak habis fikir jadinya, melihat perbedaan Tri sewaktu di kampus. Dari segi busana yang di kenakan sungguh berbeda. Bedak dan bibir tipis merah merona melekat pada wajah putihnya, menjadikan satu nilai modal untuk mencuri perhatian pria yang berada dipantai tersebut. Termasuk Tomy yang mengaguminya.

Takut didahului oleh Tri, Tomy segera menyapanya duluan.

“Haii .. apa kabar?“
“Baik, siapa duluan ya yang sampai disini??“ tanya Tri.

Tri tidak mau kalah, kecantikan membuatnya percaya diri. Dia memang unggul dalam beretrorika -berbahasa secara efektif- terutama di depan pria, Tomy sudah dari awal menyadarinya.

“Mungkin kamu duluan.“
“Ooo..“
“Hari ni kamu cantik sekali,“ gombalnya.
“Hehehe makasih.”
“Tapi sayang statusnya kok single?“
“Kok tau,“ pipi Tri mulai memerah.”
“Liat di facebook kamu.“
“Oo ..“ Tri tersenyum malu.

Wanita bila ditanya selalu menjawab ‘oo’ adalah kewajaran, hal ini dikarenakan wanita pada umumnya tidak suka mendramatisir.

“Kamu udah makan?“ lanjut Tomy.
“Belum, kenapa? Mau ajak Tri traktir ni?“ dengan gelagat tidak menolak.
“Hehe.. ia, emang bisa? Apa teman Tri tidak marah bila kita berdua saja yang pergi?“
“Haha.. tidak, jangan khawatir mereka udah dewasa semua. Pengertian lagi, terus Tri kesini bawa sepeda motor sendiri, jadi kalau mereka pulang tidak masalah.“

Tri memahami maksud isi hati Tomy. Tanpa fikir panjang, Tomy menarik tangan Tri yang putih dan lembut, tanpa menghiraukan kalau mereka baru saja berkenalan. Mereka menyusuri pasir putih sesambil melihat ke laut. Sejenak, terbesit di benak Tomy. “Sejak kapan aku berani menggandeng tangan wanita? kakak tingkat lagi. Akankah sikap yang tadi ialah diriku yang sebenarnya? Atau tadi itu setan yang merasukiku?“ ia bertanya-tanya keheranan seolah tak percaya apa yang barusan terjadi.

Tiba-tiba di sisi Tomy terdengar suara lembut dari bibir Tri “Aduuh .. dingin kalii, disini anginnya kencang.“
Tomy mendekat “Dingin ya, ya udah kita ke atas bukit,“ sambil mencari rumah makan ia mendekap Tri, memberikan rasa kehangatan. Jacket yang ia kenakan diselimuti ke tubuh Tri.

Di rumah makan mereka di kejutkan dengan sekawanan hujan, rupanya sudah terlihat sejak angin kencang tadi. Petir yang diselingi kilat menemani makan sore mereka yang sepi dari pengunjung. Sungguh menyeramkan pagi ini, betapa tidak. Pohon besar di belakang rumah makan itu mulai ingin rebah. B ila menimpa, maka tamat sudah mereka.

Situasi mencekam membuat Tri takut tapi tidak unutuk Tomy.

“Kita pulang jam berapa?” cemas Tri.
“Sebelum ashar. Tenang, hujan ini hanya sebentar, ini hanya hujan lewat.“ Cukup meyakinkan Tomy menjawabnya, menyadari Tri yang cemas dari tadi. Tiba-tiba Ibu pelayan datang, lalu mereka memesan 2 jus coconut milk.

Hujan tak kunjung reda sejak pagi. Obrolan sudah tidak ada, mulut mereka lelah untuk bebicara, kejenuhan mulai menginggap ketika hanya hujan yang didengar. Saat situasi seperti ini, Tomy sempat juga merayu Tri untuk melepas ketakutan yang dirasakannya.

”Tri, tau tidak srikandi di kayangan itu seperti apa?“
“Seperti apa?“
”Seperti kamu Tri, dan aku arjunanya,“ isyarat hati yang Tomy pancarkan mulai menyala.Tri mulai tersipu malu mendengarnya.”
“Haha, masak sih aku seperti srikandi yang di kayangan?“
”Enggak percaya? Lihat aja nanti di kaca setelah tiba dirumah. Lalu perhatikan wajahmu yang elok berseri itu, dan tatap busana yang kamu kenakan hari ini. Bandingkan dengan busana kuliahmu, pastilah hari ini lebih cantik dan sedap di pandang.“

Rayuannya tepat, hingga mengena di lubuk hati Tri, menjadikannya hanya membalas dengan senyuman manja.
“Tri, boleh aku mengatakan sesuatu yang selama ini aku rasakan?”
“Boleh, silahkan saja,“ Tri menyadari akan ada kejutan.

Tiba-tiba, sejenak Tomy diam sambil memejamkan mata. Sebab, ia takut bila tersendat di saat mengungkapkan isi hatinya, sesekali melirik kiri dan kanan memantau apakah sudah benar-benar sepi. Ia tidak bisa mengendalikan geroginya yang sudah tingkat atas, ini masa pertama kalinya Tomy ingin mengumbar cintanya secara langsung kepada wanita.

”Etttr… i , aku sukaa..“
“Terima kasih buk“ Ucap Tri, usai pesanan datang.

Tomy terkejut dengan kedatangan pelayan, ia pasrah dan menyerah dengan keadaan yang sudah berubah, padahal tadi keadaan sebaliknya -sudah berada diatas angin- kalaulah tidak lambat menyampaikannya.
Kini Tomy sudah tidak selera. Lalu, untuk menghilangkan kekesalannya ia menawarkan suapan manja ke Tri, sehingga membuat suasana menjadi romantis, ditambah lagi ornamen-ornamen rumah makan yang mendepankan sisi percintaan. Balon berbentuk love bewarna pink , bingkai-bingkai indah menyelimuti dinding disertai lukisan menara Eiffel. Sore yang langka bagi mereka, dunia seakan terasa milik berdua.
Tak sadar hujan telah reda, kini pukul 06:05. Dimana Tri harus pulang kerumah. Kemudian mereka pulang dengan mengendarai sepedar motornya masing-masing.

Peristiwa sore tadi tak akan terlupakan untuk Tomy, ia mendapat banyak jawaban, Tri adalah wanita yang tidak pemalu bila bermesra di muka umum, ia juga pengertian, tidak neko-neko dan juga manja. Ia selalu menurut akan larangan orang tuanya yang harus pulang sebelum magrib.
Sampai dirumah Tomy segera menelfon, ia khawatir Tri dimarah orang tuanya karena pulang hamper magrib.

“Hallo?“
“Ya, hallo ?” Jawab tri.
“Suara Tri terlalu halus, hampir tak terdengar, tadi dimarah ya?“
“Tidak tom, tapi hanya ditegur. Tri alasannya tadi hujannya lebat jadi berteduh dulu dirumah teman makanya pulang terlalu magrib.''

Tomy senang sekali, Tri menjawab dengan sebutan ‘tom’ , yang dari awal perkenalan sampai sekarang tidak pernah Tri menjawab seperti itu.

“Ooh syukur la. Suaranya kok pelan, ada apa. Tri pilek ya?“
“Biar tidak didengar sama Ayah, nanti ketahuan kalau kita tadi ke pantai“
“Hehe. Pintar Tri ya, oke deh. Eh tunggu dulu aku mau menanyakan sesuatu, apa boleh??“
“Boleh, mau nanya apa tom? Cepat ya nanyanya“ cemas Tri, takut ketahuan Ayahnya.
“Aku menyukaimu Tri, rasanya aku telah jatuh hati. Apakah kamu mau menjadi pacarku?“

Sejenak Tri terdiam 1 menit lamanya, membuat Tomy harap-harap cemas, apakah ditolak atau diterima atau juga lansung dimatikan sambungan telefonnya.


“Iya aku mau, Tri mau menjadi pacar Tomy. Tapi ada syaratnya.”
“Aduh, ada syarat segala, memang apa syaratnya?“ Keluh Tomy yang penasaran.
“Tom, kamu jangan mencintai aku melebihi cinta terhadap Allah, karena suatu saat nanti bisa saja kamu akan membenci aku. Dan bila membenci aku sewajarnya pula, karena kedepan bisa jadi kita saling mencintai. Bukankah allah maha membolak-balikan hati? Bukankah cinta yang sejati adalah cinta setelah akad nikah, selebihnya adalah cobaan dan fitnah saja. Maaf ya tom, aku bukan maksud menggurui tapi inilah yang diajarkan mama.“
“Ooh oke, tidak masalah. Aku senang kok mendengarnya. Ya udah tutup telefonnya, katanya bentar, nanti ketahuan.“
“Hi.. hi.. iya nih keasikan jadinya, oke daa .. Assalamualaikum.“
“Daa .. waalaikumsalam.“


Teruskan membaca Tomy menjalin kasih dengan Tri selama 3 tahun

Tomy Menjalin Kasih Dengan Tri Selama 3 Tahun

Tomy menjalin kasih dengan Tri selama 3 tahun

Mereka semakin mantap dalam menjalani hubungan ini, saling melengkapi dan jarang bertengkar walau hanya kecil-kecilan, terkadang pertengkaran itu dimulai dari kuatnya ego masing-masing. Terutama Tomy yang lebih muda dari Tri, ia jarang sekali ingin mengalah dalam segala hal, itu semua tidak serta merta menjadi masalah yang sulit untuk di atasi. Sebab, masih dalam kata wajar layaknya orang pacaran kebanyakan.

Setiap pulang kuliah , Tomy sempatkan untuk berdua bersama di rumah Tri. Malah, jam-jam kuliah yang tidak ada dosen pun ia rela cabut demi terpenuhnya rasa rindu yang selalu merebak dalam jiwanya. Tri sudah wisuda setahun yang lalu, hingga kini ia belum bekerja karena statusnya orang senang.

Jadulnya motor Tomy, yang bukan miliknya melainkan bapaknya, membuat Tri selalu menawarkan untuk menjemputnya. Terkesan memanfaatkan materi orang, membuat Tomy merasa hiba dan khawatir akan dicap sebagai laki-laki yang tidak bermodal atau kere.

Ini yang dinamakan tulus mencintai pasangan, tidak memandang status atau materi yang ada. Tapi, Semakin tinggi sebuah pohon semakin kuat anginnya. Walau seorang sudah merasakan begitu nikmatnya hubungan, pasti akan ada kendala yang siap kapan saja menerjang.

Tomy mulai was-was dalam mengkehendaki sesuatu dari Tri. Takut terjadi sesuatu diluar dugaannya. Konon, surga itu ada di bawah telapak kaki ibu, maka wajarlah bila seorang wanita bernama lengkap Gayatri Rajapatni ini menghormati ibunya, demi surga akhirat dibanding surga dunia yang hanya sebentar ini. Orang tua Tri tidak setuju anaknya menjalin kasih dengan Tomy yang keluarganya bukan dari golongan ternama, mapan, para alim, terlebih ulama. Lantas, hal ini menjadikan sebuah tembok raksasa yang nyata bagi Tomy.

Perekonomian keluarga Tomy memang pas-pasan, tapi semangatnya dalam pendidikan berbeda dengan anak konglomerat kebanyakan, yang hanya berfoya-foya. Bapaknya bekerja sebagai buruh bangunan hanya lulusan SMP, Ibunya tidak lulus SD hanya berfrofesi sebagai ibu rumah tangga, dan Abangnya yang bekerja sana sini hanya menggunakan ijazah SMP akibat putus sekolah semasa SMA. Ia tidak ingin nasibnya seperti mereka bertiga, baginya memegang gelar sarjana saja masih kurang, hingga dia bercita-bisa bisa lulus S3 agar status keluarganya bisa dirubah.sedert

Terkadang dibenakknya selalu bertanya, “Pantaskah aku seorang anak buruh mempunyai kekasih? Haruskah aku merelakan hidup ini hanya demi cinta yang dapat membunuh ku!?“

Hanya waktu yang  bisa menjawab semua pertanyaan Tomy ini. Semua terasa begitu cepat, jalinan kasih yang mereka lalui tanpa di sadari memakan waktu 3 tahun lebih. Tidak sedikit hati Tomy tersakiti akibat urusan asmara ini, namun selama 3 tahun pahit manisnya tetap mereka merasakan bersama.

Hari ni adalah hari ujian seminar, yang dilakukannya pagi tadi di kampus. Saat diperjalanan pulang tiba-tiba suara ponsel Tomy berbunyi, isyarat pesan masuk. Ia terperanjat membacanya, Tomy murka terhadapat Tri. Sebab pesannya berbunyi “ Tolong jangan ganggu Tri lagi, saya sahabatnya Juar pacarnya Tri.“

Kenyataan selama ini hanya fatamorgana. Tomy gusar, ia terbakar api cemburu, ia tidak sanggup berlama-lama di jalan raya, sudahlah panas lagi berdebu. Tidak ada di ayalnya ini perbuatan orang yang iseng, ia telah lama curiga setiap kali meminta password FB yang di selalu diganti Tri. Hatinya telah dirasuki oleh kegelapan, ia ingin segera secepat mungkin menemui Tri yang sudah mengkhianati cintanya. Laju sepeda motornya di atas 90 km, maut pun tak dihiraukannya lagi.

Siang menjelang sore, Tomy sampai di halaman rumah Tri. Entah kenapa sore itu awan hitam berarak melewati langit yang tadi begitu panas, dalam sekejap keadaan gelap dan hujan gerimis yang syahdu perlahan mulai melebat. Mungkinkah ini pertanda akhir dari segalanya. Sambil memasang muka masam, Tomy menyodorkan pesan yang mengejutkan itu.

“Kamu pasti tau arti pesan ini?”
“Iya, itu nomor Gio. Sahabatnya Juar.“
“Siapa Juar? Pacar kamu? Jadi aku ini siapa!?” Dengan nada yang tinggi.

Tomy tidak ambil pusing apabila suaranya didengar oleh keluarga Tri, sebab hujan di luar yang lebat membuat orang di dalam tidak kedengaran.

“Sebenar pacar aku, sedang kuliah di Jogja. Tapi aku bisa jelaskan Tom.”
“Kenapa kamu mau menerima cintaku sedangkan kamu sudah mempunyai pacar?” teriak Tomy.
Tangannya yang gemetar tanda ingin menampar pipinya, tapi ia masih teringat pesan ibunya. Di larang memukul perempuan kecuali istri sendiri.

“Aku butuh pendamping, bukan Juar yang jaraknya jauh. Tapi ingat Tom! Cintaku padamu lebih besar dari pada cintaku pada Juar. Aku ingin putus darinya, ia sekarang tidak peduli lagi.”
“Tidak peduli? Itu buktinya kenapa dia menyuruh temannya seperti ini? Dimana letak akalmu?? “ Merampas ponsel miliknya dari tangan Tri.
“Kalau kamu ingin putus dengannya, sampaikan sekarang juga!?“  Sejenak menarik nafas pendek untuk menenangkan jiwanya.
“Tapi aku tak bisa tom“ Tri menangis tersedu-sedu.
“Kenapa!!?” dengan perasaan curiga yang mendalam.
“Rasanya sulit untuk di jelaskan, jasanya begitu banyak. Aku hanya ingin dia yang memutuskan hubungan ini bukan aku. Aku tidak tahu harus bagaimana tom selain cara ini.”
“Baiklah, ini seperti cinta segitiga yang tidak dapat diselesaikan jika tidak ada yang memilih diantara 2 pilihan. Ini pertanyaan ku yang terakhir. Sekarang, kamu ingin pilih Juar atau aku?“
“Aku tidak bisa jawab tom, maafkan aku tom ini salahku, aku memang bodoh.”
“Stooppp .. “ sambaran jari telunjuk Tomy tepat ke arah mulutnya Tri yang sedari tadi berusaha menjelaskan atas kesalahan fatalnya.
“Baiklah, aku yang akan menjawab. Kita putus dan silahkan kamu bersama Juar,” lanjut Tomy.
“Tidak, aku tidak mau putus aku sayang sama kamu tom, aku mencintaimu. Tega kamu ingin memutuskan aku? kita sudah 3 tahun tom! Sia-sia kita menjalaninya“
“Iya aku tega, apakah kamu tega tidak jujur padaku? Aku tidak akan mendekatmu sampai sejauh ini bila kamu jujur padaku, tapi kenyataannya kamu berkhianat. Apakah kamu tidak menyadari apa yang kamu tanam itulah yang di petik nanti? Tunggulah karma dari tuhan. Sesungguhnya kamu adalah cinta pertamaku. Akan tetapi, kamu jugalah orang yang pertama menyakiti perasaanku.”

Tatapan mata yang terakhir menyiksa batin Tomy yang mencintainya, walau begitu ia tetap merelakan Tri untuk orang lain. Sungguh ironi kisah cinta yang mereka alami, harus kandas karena orang ketiga disertai campur aduk dari orang tua.

Tomy pulang dengan sepeda motornya yang terparkir di rumah Tri, dalam keadaan basah sejak kedatangannya. Sepanjang jalan, hujan terus mengiringi kepergian Tomy menuju rumahnya. Tya yang dari tadi tidak bisa berbuat banyak, hanya bisa menangis sambil meratapi penyesalannya, ia kecewa dengan keputusan yang di ambil Tomy. Menyusulnya saja tidak mungkin, maka ia mulai mengetik pesan perpisahan yang tidak sempat disampaikannya tadi.

Walau kini kau tak lagi temani ragaku, akan ku pastikan bahwa cintaku hanya untukmu seorang sayang, dirimu akan ku kenang selamanya, meskipun kusadari tak mungkin bisa memelukmu lagi “

Semua telah terlambat, hati Tomy tidak bisa ditarik ulur lagi, tidak bisa menerima Tri lagi. Hatinya sudah beku kecuali atas izin yang di atas.

Jurang yang dalam telah memisahkan mereka yang tak mungkin untuk lalui, kini Tomy seperti lari dari kenyataannya.

Teruskan membaca Seminggu berselang ..

Kisah Cinta Laksmana

Senin di pagi hari, 9 April 2012

Karimun di pagi hari. Semua terasa lengkap, termasuk atribut ospek. Namun kekhawatiran muncul di perjalanan. Sebab. Sekarang pukul 07:15, ospek di hari pertama telah di di mulai 15 menit yang lalu. Alih-alih menunggu sanksi yang diterima, diluar dugaan, Tomy dipersilahkan masuk ke gerbang kampus. Ternyata hanya ia sendiri yang di persilahkan masuk. Sehingga hatinya betanya-tanya, siapakah dia?

Selama ospek berlangsung Tomy mencari orang tersebut. Ketika istirahat, wanita tersebut terlihat sedang makan siang sendirian di kantin. Ia lantas beranikan diri untuk mendekatinya.

“Menikmati mie ayam tanpa teh sosro dingin sepertinya kurang afdol, nih ambil satu.“ Tomy tawari dengan sebotol teh sosro.
“Eh kamu, terima kasih“ jawab wanita tadi. “Kok diam, kamu gak lapar? Jangan liatin terus, nih ambil kalau mau“ Wanita tersebut menawarkan. Sepertinya wanita itu bisa membaca fikiran Tomy yang sedari tadi hanya melihat wajahnya.
“Udah tadi barusan selesai, tidak kok.., dari tadi saya hanya melihat botol sosro ini,“ lanjut Tomy dengan sanggahannya.
“Melihat apa? Airnya sudah habis, kok dilihat?“ Pertanyaan yang menyudutkan. Mata itu berhasil melumpuhkan Tomy, menjerat nafsu jiwa dan mengurungnya kedalam gejolak cinta.

Nama wanita itu Gayatri Rajapatni, jurusan keguruan semsester 3. Hidungnya pesek namun cantik untuk seukuran wanita indonesia. Perkenalan mereka di kantin begitu singkat tetapi cukup berkesan, Tomy ingin berlama-lama, memandang Tri yang memikatku itu. Tapi, setelah menyantap mie ayamnya Tri pergi begitu saja ke ruang panitia ospek, kecewa jadinya Tomy.

Tiba waktu yang didambakan Tomy, yakni memamerkan puisi cinta ke semua orang di sesi terakhir ospek, isinya sebenarnya untuk seseorang. Orang itu tidak lain adalah kakak tingkat yang di taksirnya. Acara di kemas apik oleh panitia, puisi yang bertemakan asmara berlantunkan romantis, sedikit humoris, membuat semua yang hadir terbawa ke alunan kisah asmara yang menyegarkan, tak terkecuali gelak tawa juga mewarnai.

“Jadikanlah aku raja di istana hatimu“ sebuah bait penutup yang Tomy ucapkan.

Setiba dirumah, Tomy segara mencari data tentang Tri. Status, tempat tinggal, keluarga, hingga asal-usulnya dicari melalui media sosial. Tampaknya Tomy telah jatuh hati pada seorang wanita yang lebih tua darinya.
Matahari mulai meredupkan cahayanya di senja, menjelang malam, cahaya rembulan menemani Tomy disaat ia menuliskan catatan harian. Mimpinya malam ini adalah menyebut nama Tri, mimpi ingin memeluk erat tubuh Tri dan memilikinya.

16 April 2012, Senin kedua di kampus
Gelora merah langit pagi, bagai tersipu malu melihat tingkah Tomy sedang tergila-gila kepada seorang wanita. Pas seminggu sudah ia berkenalan dengan Tri, kini ia sudah akrab dengannya. Namun kebahagiannya terganggu. Ia gelisah. Sebab, Tri yang dapat meluluhkan hatinya tidak didapati pagi ini. Setelah lama mencari, siangnya Tri terlihat di parkiran, sedang berkutat dengan sepeda motor yang susah untuk keluar. Tomy menghampiri dan membantunya. Ia tak berdaya di samping Tri, hatinya seperti meronta ingin mengungkap hasrat tanpa bisa dikendalikan.

“Terima kasih sudah membantu ku.“
“Ia sama-sama, mau pulang ya kak?”
“Tidak, mau ke perpustakaan dulu baru pulang.“
“Boleh ikut,” lanjutnya. Tiba-tiba ia menawari Tomy.

Di jalan Tri mengatakan “Jangan memanggil kakak ya, anggap saja kita sebaya,“ Tomy mengangguk tanda mengerti. Kumis yang hitam, sedikit jenggot bergantung di dagu. Serta tubuh Tomy lebih tinggi darinya, memungkinkan Tri seperti itu.

Tomy juga menyukai buku, apa lagi tentang ilmu kelautan. Jurusan yang di gelutinya di Universitas Karimun. Ketika sedang asik sendiri, ia terkejut. “Aku mau pulang“ kata Tri. Kenapa? keluh Tomy dengan meletakkan kembali buku yang dipegangnya. Tri diam lalu menuju pintu keluar. Sesekali di perjalanan pulang ia sempatkan bertanya apa yang dicari Tri. Namun tidak di gubris. Andai rasa penasaran ini berakhir dengan bahagia, seribu satu cara akan kukerahkan untuk menggali isi kepalanya, agar terkuak segala permasalahan yang dihadapinya! Geram Tomy.

“Aku mau ke cafĂ©.“
“Aku ikut,“ sahut Tomy
“Tidak usah, aku lagi mau sendiri.“
Tomy segera mencari alasan agar bisa ikut.
“Aku kan mahasiswa baru, jadi aku ingin tahu apa itu SKS, IPK, BEM, HIMA.“
Tanpa harus menjawab Tri pergi begitu saja.

Rasa penasaran tomy mengalahkan rasa malunya, lantas ia menyusul Tri hingga tiba di cafe. Tri tersenyum sambil menggelengkan kepala, tanda tidak percaya apa yang dilihatnya.

Di sana mereka disuguhkan makanan dan minuman, Tri adalah orang kaya, laptop, gadget, dan dompet yang besar serta gelang emasnya yang mencolok sudah menyakinkan Tomy. Diskusi mereka begitu asyik, sehingga tak sadar suara orang mengaji terdengar, waktunya Tri pulang kerumah. Waktu Tri memang terbatas, tidak seperti Tomy yang bebas.

Agaknya, terlihat Tri berusaha membuat Tomy penasaran. Ia merupakan wanita yang berbeda, tidak semudah unutuk ditaklukkan oleh setiap pria, terlebih perkenalan yang baru seumur jagung. Hingga muncul beribu tanya dan sejuta rindu di benak Tomy, bila tidak turuti kehendaknya, hatinya meronta-ronta ingin mencari kebenaran demi meraih kenikmatan yang tiada berakhir (Cinta).

“Kecantikan sempurna yang tak terlukiskan telah melumpuhkan jiwa Tomy saat bersama Tri“


Hanya satu cara untuk mewujudkan hasrat Tomy. Bertemu langsung, mengajak Tri kencan dan bukan lagi merenung ditempat. Kemudian, kencan di sabtu senja Tomy sampaikan di kampus. Tri tertarik. Sebab, hari itu bertepatan ia dan teman-temannya melakukan refreshing ke pantai pelawan. Sebuah wisata alam andalan karimun.

Teruskan membaca Sabtu sore di pantai pelawan

Pemimpin Adalah Hadiah

“Pemimpin, adalah hadiah bagi yang dipimpin.”
Demikian sebuah nasihat pernah bertutur. Ya, saya dulu berpikir sebaliknya. Bahwa kita, yang dipimpin ini, membutuhkan seorang pemimpin agar bisa berubah. Ini benar adanya. Hanya dalam banyak kondisi, yang terjadi bisa sebaliknya. Yakni bahwa hadirnya seorang pemimpin, ditentukan oleh yang dipimpin.
Apa pasal?
Lah, memang darimana asal seorang pemimpin jika bukan dari orang-orang yang dipimpin? Darimana lahirnya presiden jika bukan dari rakyatnya? Untuk kasus presiden, terutama, sungguh hampir mustahil sebuah negara mengimpor presiden dari negara lain. Jadilah seorangpresiden sebuah negara, pastilah adalah putra asli negara itu. Nah, di titik inilah mata kita dibukakan, tentang sebuah tanya, “Kapankah kiranya negeri ini memiliki presiden yang teramat amanah dan dicintai rakyatnya?”
Jawabannya adalah, “Ketika kita sungguh-sungguh mempersiapkan, melahirkan, membesarkan, mendidik, para pemimpin dari rumah-rumah kita.” Ya, sebab kita tak pernah tahu dari rumah mana kelak kan datang para pemimpin negeri ini. Bisa jadi itu dari rumah kita. Lalu pemimpin seperti apa kah yang akan kita sumbangkan bagi negeri ini jika mereka tak sungguh-sungguh kita siapkan?
Sisi lain, tak semua pemimpin cocok dengan yang dipimpin. Maka pertanyaan penting yang perlu dijawab oleh kita adalah, “Jika kita menghendaki pemimpin yang amanah, kompeten, shalih, dsb, siapkah kita dipimpin olehnya?” Bersedia kah kita mengikuti perjuangannya, pengorbanannya? Rela kah kita tuk menjalani kehidupan yang bisa jadi tak mudah, namun berada di jalan yang benar?
Jawaban ‘ya’ atas semua tanya itu lah yang menentukan kesiapan kita tuk dihadiahi pemimpin idaman. Bersiaplah, wahai diri, perjalanan masih panjang.

Ajari Aku MencintaiMu

“Ajari aku mencintaiMu dalam lelah. Ajari aku mencintaiMu dalam duka. Karena jiwa kadang rapuh, bosan, tak setia. Ajari aku mencintaiMu.” – Opick –
Sepenggal lirik di atas kutemukan dalam album Ya Maulana, karya terbaru Opick. Entah mengapa syairnya menggelisahkan hati. Mungkin sebab ia lah yang sedang kualami saat ini. Kala jiwa ini rapuh, bosan, dan tak setia. Padahal ia rindu. Padahal ia ingin kembali. Padahal ia ingin bertemu.
Mencintai kala senang tentu mudah. Mencintai kala bahagia pun demikian. Namun mencintai kala diri ini lelah, kala terjatuh, kala berduka, sungguh memerlukan kesungguhan. Apalagi cinta adalah pemberian. Bagaimana kah mungkin diri ini ikhlas melepas, sedang yang dirasakan adalah kehilangan?
Maka kita memang perlu memohon padaNya tuk diajari cara mencintai. Mencintai kala berada dalam kelelahan, dalam kedukaan. Sebab kita perlu cintaNya. Dan kita pun perlu mencintaiNya. Kita perlu cintaNya, sebab tanpanya kita mati. Hilang. Sirna. Kita perlu mencintaiNya, sebab ia lah jadikan diri ini berarti.
MencintaiNya berarti hidup di jalanNya, dalam naungan firmanNya. Sedang tak semua firmanNya terjangkau oleh akal, maka mencintaiNya sungguh menghendaki penyerahan total. Ketundukan tanpa banyak bertanya. Adakah kan terasa nikmat cinta yang terus dipenuhi tanya?
Maka ajarilah aku mencintaiMu, dalam lelah, dalam duka. Agar jiwa yang terbolak-balik ini teguh di jalanMu. Bentangkanlah untukku, duhai Rabb, jalan yang luas lagi lapang. Jalan terdekat tuk kembali padaMu.

Jika Bukan Karena Guru

"Jika bukan melalui guru, lalu dari mana kita kan mendapat kucuran ilmu?”
Tak ada pilihan lain bagi pembelajar yang ingin mendulang banyak ilmu, selain mengembangkan terlebih dahulu kesabaran dalam menghadapi guru. Tidak hanya kesabaran dalam arti berusaha menerima dan mencerna ilmu yang diajarkan, melainkan juga kesabaran dalam menerima pribadi beliau apa adanya.
Seorang guru hanyalah penyampai. Kadar penyampaiannya amat tergantung pada kadar kualitas dirinya. Apapun itu, fokus kita mestilah pada ilmu. Kita yang membutuhkan, kita lah yang perlu membangun keteguhan.
Beberapa cara berpikir yang bisa dilatih untuk melahirkan kesabaran saat berhadapan dengan seorang guru adalah:
  1. Berpikirlah laksana seorang musafir di tengah guru nan tandus. Diri ini teramat haus. Lalu datanglah seorang membawa air. Meski sedikit, pun rasa tak nikmat benar, tetap saja syukur yang terucap.
  2. Takkan ada ilmu terkucur jika tak melalui guru. Buku? Yang menulis guru. Video di internet? Yang membuat guru. Kita menikmati ilmu sebab ada orang-orang yang berniat menyebarkan ilmu.
  3. Guru adalah pembawa ilmu—pesan Tuhan. Ilmu adalah cahayaNya. PetunjukNya. Lalu ada seorang yang bersusah payah membawakannya. Tidakkah dalam gelap kita merindu cahaya? Lalu bagaimana kah hendak mencela sang pembawa?
  4. Jangan tertipu hanya pada ilmu yang tersurat. Sungguh, ilmu yang tersirat jauh lebih berlimpah. Seorang guru yang telah hidup bersama ilmunya kan melahirkan gerak-gerik yang lebih kaya dibandingkan perkataannya. Sebab pengalaman batin kerap sulit dijelaskan lewat kata-kata.
  5. Jika asyik tidaknya seorang guru memengaruhi semangatmu, maka periksalah kesucian niatmu. Sebab tujuan kita ilmu. Kala masih memilah memilih, itu lah tanda lemahnya kesungguhan.
  6. Tak ada ilmu yang remeh. Tak ada ilmu yang sederhana. Sebab bagi seorang guru, jika ia belum dapat menjelaskan sesuatu dengan cara yang mudah, ia belumlah terlalu paham. Maka pada kesederhanaan, wahai murid, penasaranlah pada kedalaman yang ada dibaliknya.
  7. Bukan, bukan guru itu yang sedang mengajarimu. Tapi Dia. Sebab ilmu milikNya, maka pembelajaranmu akan ilmunya, sejatinya adalah jalan tuk berbicara denganNya. Melalui cahayaNya, Dia menyapamu. Tidakkah kau kan bahagia?
Copyright © Ketawa Karimun. All rights reserved. Template by CB